Urgensi Audit

Image

Audit, sebenernya ngapain sih? Ngapain capek-capek meriksa? Toh aturan udah ada,undang-undang ada, trus polisi juga ada. Kalau melanggar aturan kan tinggal ditangkap polisi.

Apa sebenernya kepentingan audit?

Definisi besar audit adalah memberikan jaminan kewajaran dengan melakukan pengujian kondisi dan kriteria. Kenapa hanya jaminan kewajaran, bukan kewajaran? Kenapa dengan pengujian, bukan pengecekan? Auditor pun kenapa hanya bertanggung jawab terhadap jaminannya saja, bukan pada pembuatan laporan secara keseluruhan? Berikut ini adalah jawabannya.

Perusahaan pada umumnya tidak bergerak atas modal sendiri. Mereka bergerak atas modal orang lain, yang disetor dalam bentuk saham maupun utang. Manajemen adalah pihak yang mempunyai tupoksi mengelola modal ini. Idealnya, karena modal adalah milik pemegang saham dan utang adalah milik kreditur, maka pengelolaan modal seharusnya ditujukan untuk optimalisasi kekayaan keduanya.

Masalah terjadi manakala, manajemen berpikir bahwa dia mengelola harta juga bermodalkan pikiran dan tenaga. Sementara pemegang saham dan kreditur hanya bermodal uang. Manajemen merasa mempunyai hak lebih. Manajemen merasa bahwa “modal” yang dia berikan patut mendapatkan penghargaan lebih. Maka manajemen pun berusaha mengoptimalisasi kekayaannya melalui pengelolaan modal ini. Di titik ini, terjadi konflik kepentingan. Seharusnya, titik fokusnya adalah kekayaan pemegang saham, namun manajemen juga menyelipkan kepentingannya.

Pemodal dengan jabatan kreditur, biasanya mereka mendapatkan bagian keuntungan dalam hitungan yang fix dan relatif mempunyai kekuatan untuk didahulukan daripada pemegang saham. Pemegang saham, dia mendapatkan bagiannya setelah kewajiban perusahaan kepada kreditur terpenuhi. Yap, benar sekali, pemegang saham hanya mendapatkan sisa-sisa saja.

Jika dianalogikan, pemegang saham adalah mandor rumahan. Sementara manajemen adalah direktur operasional. Manajemen mengetahui langsung kondisi lapangan, kemudian melaporkannya secara tertulis kepada pemegang saham. Manajemen mengetahui celah-celah di lapangan. Fakta-fakta di lapangan semua yang tahu adalah manajemen.

Ibarat informasi, Manajemen dan Pemegang saham adalah pihak yang sama-sama berkepentingan terhadap informasi yang sama. Bedanya, Manajemen adalah orang pertama yang mengetahui dan mengelola informasi, sedangkan pemegang saham mendapat informasi dari manajemen. Esktremnya, Manajemen tahu 100%, sementara pemegang saham tahu 0%, dan tingkat pengetahuan pemegang saham akan meningkat jika diberitahu oleh manajemen. Jika dihubungkan dengan konflik kepentingan, maka patut diyakini adanya potensi bahwa manajemen akan memberikan informasi kepada pemegang saham sesuai dengan kepentingan manajemen itu sendiri.

Potensi yang mungkin ada adalah manajemen menyembunyikan informasi yang baik, dan mengeluarkan informasi yang buruk. Keduanya adalah fakta, namun fakta yang baik disembunyikan. Harapannya adalah agar pemegang saham maklum dan tidak menuntut return yang terlalu banyak. Jika return pemegang saham tidak terlalu banyak, maka sisa keuntungan bisa masuk ke penguasaan manajemen. Di titik ini, terjadi asimetri informasi. Dalam tahapan yang tinggi, asimetri ini akan memicu timbulnya moral hazard. Kasus enron adalah salah satu contoh ekstrimnya.

Apakah manajemen curang? Tidak. Karena manajemen juga menginginkan usaha ini membesar, ekspansi. Dan ini bisa dilakukan dengan pendanaan tambahan yang salah satunya berasal dari profit perusahaan.

Kembali ke masalah asimetri informasi. Untuk mengatasi asimetri informasi ini, salah satu pengendalian yang dilakukan adalah dengan adanya berbagai aturan dan konsensus mengenai pelaporan. Aturan ini tidak terbatas pada tataran keuangan saja, namun dari segi hukum yang berlaku, pajak, dari aturan kenegaraan, sampai pada kebijakan internal perusahaan.

Manajemen kaitannya dengan kepentingan dan informasi, mempunyai itikad yang hanya dia dan Allah yang tahu. Itikad ini akan mempengaruhi budaya organisasi secara keseluruhan dan menentukan arah kebijakan.

Di sinilah salah satu peran auditor, yaitu memeriksa kewajaran pelaporan dengan menguji hal yang dilaporkan manajemen dibandingkan dengan segala peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Auditor hanya memeriksa kewajaran, karena ada satu faktor penting yang sangat sulit (kalau tidak bisa dikatakan tidak bisa) dilihat atau diuji oleh auditor. Faktor tersebut adalah integritas manajemen. Itikad manajemen adalah hal yang hanya diketahui oleh Allah SWT dan manajemen itu sendiri. Faktor ini menjadi salah satu alasan kenapa garansi yang diberikan adalah garansi kewajaran, bukan garansi kebenaran.

Auditor memberikan jaminan berdasarkan pengujian. Maksudnya adalah, auditor tidak bisa melakukan pengecekan secara total. Auditor menggunakan teknik sampling. Bisa jadi ada kesalahan namun tidak masuk dalam sampling. Akan sangat menyita waktu jika pemeriksaan dilakukan secara detil 100% tanpa terkecuali. Jika sampling mengatakan wajar, maka auditor kemudian memberikan pendapat yang sifatnya generalisasi, berdasarkan sampling laporan yang disajikan wajar.

Auditor hanya bertanggung jawab pada pendapatnya saja. Hal ini kembali ke faktor manajemen, bahwa manajemen dengan segala integritasnya-lah yang menyusun laporan. Auditor hanya mengecek laporan tersebut, apakah wajar atau tidak.

Kadang pertanyaan berkembang,”Lho, kan di perusahaan sudah ada pengendalian internal?”

Benar, di kantor sudah ada pengendalian internal dan ada pihak yang berwenang melakukan quality assurance. Namun, pihak tersebut adalah pihak internal perusahaan. Mereka dipandang memeriksa sesuai kepentingan puncak, maka dilihat kurang independen. Untuk itulah perlu pihak independen di luar perusahaan yang memeriksa. Auditor pun, dalam hubungannya dengan internal control, dia sebatas memahaminya saja, apakah sudah memadai apa belum. Pengujian dilakukan sekedarnya saja untuk memastikan bahwa pengendalian berjalan dan semua orang tahu. Karena, sekali lagi, pengendalian internal disusun juga oleh manajemen.

Nah, demikianlah urgensi audit oleh auditor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: